Khalifah Ali bin Abi Thalib (36-41 H/656-661 M)
Ali ibnu Abi Thalib ibnu Abdul Muthalib ibnu Hasyim. Ali adalah putera putra Abu Thalib, paman Rasulullah. Nama ibunya adalah Fatimah. Ali dilahirkan sepuluh tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. yang diutus oleh Allah menjadi rasul. Sejak kecil ia telah dididik dalam rumah tangga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. segala peperangan yang ditempuh oleh Nabi juga diikuti oleh Ali, kecuali pada peperangan Tabuk sebab ia disuruh menjaga kota madinah.Ketika ditinggalkan menjaga kota madinah, ia kelihatan agak kecewa. Kemudian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. berkata kepadanya, “Tidaklah engkau rela wahai Ali agar kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa?”. Ini telah membuktikannya sendiri setelah diambilnya Ali menjadi menantunya, suami dari anaknya Fathimah. Dalam kebanyakan peperangan besar, Ali yang membawa bendera. Ali termasyhur gagah berani, tangkas dan perwira, amat pandai bermain pedang.
Abu Ishak mengatakan dari Abdullah bahwa ahli madinah yang paling pandai dalam menghukum (qadhi) ialah Ali bin Abi Thalib.
Abu hurairah meriwayatkan bahwa umar ibnu al-Khattab berkata, “Ali ibnu Abi Thalib adalah orang yang paling pandai menghukum di antara kami semuanya. “Ibnu Mas’ud juga berkata demikian.
Khalifah Ali bin abi thalib merupakan orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam semenjak kecil diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, kemudian setelah kakeknya meninggal dia asuh oleh paman nya Abu Thalib. Karena Rasulullah hendak menolong dan membalas jasa pamannya, maka Ali diasuh oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. dan didik. Pengetahuannya dalam agama Islam sangat luas. Karena dekatnya dengan Rasulullah beliau termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits Nabi. Keberaniannya juga masyhur dan hampir seluruh peperangan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali senantiasa berada di barisan terdepan.
Ketika pada masa Kekhalifahan Abu Bakar, Rasulullah selalu mengajak Ali untuk memusyawarahkan masalah-masalah penting. Begitu pula Umar bin Khattab tidak mengambil kebijaksanaan atau melakukan tindakan tanpa musyawarah dengan Ali. Utsman pun pada masa permulaan jabatannya dalam banyak perkara selalu mengajak Ali dalam permusyawaratan.
1. Terpilihnya Ali Menjadi Khalifah
Tentunya suara terbanyak dan yang berkuasa setelah Utsman tergenggam di tangan kaum pemberontak itu sendiri adalah Ali. Pada saat itu Ali medapatkan banyak dukungan dari sahabat senior dan juga para pemberontak pada masa khalifah Utsman. Orang yang pertama kali membaiat Ali adalah Thalhah kemudian diikuti oleh zubair, dikemudian hari diikuti oleh banyak sahabat dari kaum muhajirin dan kaum Ansor.
Pada waktu pembaiatan Ali berpidato setelah diangkat untuk menjadi khalifah, yaitu, “Wahai manusia, kamu telah membaiatku sebagaimana yang telah kamu lakukan kepada khalifah-khalifah yang lebih dahulu daripadaku. Aku hanya boleh menolak sebelum jatuh pilihan. Apabila pilihan telah jatuh, menolak tidak boleh lagi. Imam harus teguh dan rakyat harus patuh. Baiat terhadap diriku ini ialah baiat yang rata yang umum. Barangsiapa yang memungkirinya maka terpisahlah ia dari agama Islam”.
Ada juga sahabat-sahabat yang masih belum sudi mengakui Ali sebagai khalifah, yaitu Hasan ibnu Tsabit, Ka’ab ibnu Malik, Abu Sa’id al-Khudri, dan Muhammad ibnu Maslamah. Adajuga yang tidak sudi menunjukkan pendirian, yaitu Sa’ad ibnu Abi Waqqas, Abdullah ibnu Umar, Shuhaih, Zaid ibnu Tsabit, dan Usamah ibnu Zaid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar