Minggu, 08 Desember 2024

SIRAH NABAWIYAH ( 13 B )


Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
Sumber : Kitab Ar-Rahiqul Makhtum

FAKTOR KESABARAN DAN KETEGARAN KAUM MUSLIMIN

Pada bagian yang lalu (13-a) telah disebutkan empat faktor dan sebab dari ketabahan dan
ketegaran kaum Muslimin. Pada bagian kali ini kita akan melanjutkan faktor dan sebab
selanjutnya:

5. al-Qur’an

Pada rentang waktu yang amat kritis dan sulit ini, turunlah surat-surat dan ayat-ayat Allah guna memberikan hujjah dan bukti atas kebenaran risalah Islam dan prinsip-prinsipnya dimana dakwah berada pada porosnya. Al-Qur’an tampil dengan gaya bahasa yang valid dan indah, mengarahkan kaum Muslimin kepada pondasi-pondasi yang kelak atas qadar Allah terbentuk komunitas manusia yang paling agung dan mempesona di muka bumi ini,yaitu masyarakat Islam. Surat-surat dan ayat-ayat tersebut juga amat membangkitkan sensitifitas dan ego kaum Muslimin untuk bersabar dan pantang menyerah, menguraikan sikap tersebut dengan bahasa permisalan dan menjelaskan kepada mereka apa hikmah di balik itu. Allah berfirman (artinya) : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?, Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Q,.s.al-‘Ankabût/29: 2-3).

Ayat-ayat tersebut juga mementahkan argumentasi-argumentasi kaum Kafir dan para
pembangkang dengan bantahan yang membuat mereka mati kutu sehingga tidak memiliki trik lain untuk mengelak. Ayat-ayat tersebut sekali waktu juga memperingatkan mereka akan akibat yang fatal dari kengototan mereka di dalam pembangkangan dan kesesatan dengan pemaparan yang jelas dan transparan, berpedoman kepada Hari-Hari Allah dan peristiwa historis yang menunjukkan adanya sunnatullah terhadap para wali dan musuh-Nya. Sekali waktu pula, menyapa mereka secara ramah, memfungsikan gaya bahasa dengan pertanyaan, petunjuk dan pengarahan sehingga dengan itu mereka mau berpaling dari kesesatan nyata yang tengah mereka lakukan.

Al-Qur’an juga membimbing kaum Muslimin menuju alam lain, memperlihatkan mereka hal yang membuat hati mereka bergetar; pemandangan alam semesta, keindahan rububiyah, kesempurnaan uluhiyyah, jejak-jejak rahmat dan kasih sayang serta keridlaan-Nya.

Di balik lipatan ayat-ayat tersebut terdapat pesan-pesan untuk kaum Muslimin. Disana,
Rabb memberitakan kabar gembira buat mereka berupa rahmat dan keridlaan-Nya serta
surga yang telah disiapkan buat mereka, di dalamnya mereka mendapatkan kenikmatan
abadi. Ayat-ayat tersebut juga memberikan gambaran kepada mereka tentang bagaimana
musuh-musuh mereka; kaum kafir dan para Thaghut yang zhalim dihukumi dan
diinterogasi lalu wajah mereka dijerembabkan ke api neraka sehingga mereka merasakan betapa pedihnya neraka Saqar.

6. Berita-Berita Gembira tentang Kemenangan

Meskipun kaum Muslimin mengetahui akan berita-berita gembira ini, namun mereka juga mengetahui sejak pertama kali mengalami perlakukan kasar dan penindasan bahkan sebelum itu- bahwa masuk Islam bukan berarti tersingkirnya semua musibah dan kematian tersebut tetapi sejak awal lahirnya, dakwah Islamiyah bertujuan untuk mengakhiri dunia Jahiliyyah dan sistemnya yang zhalim. Mereka juga mengetahui bahwa buah dari hal itu di dunia ini adalah terbentangnya kekuasaan diatas muka bumi dan penguasaan terhadap kondisi politis di seluruh alam yang dapat menggiring umat manusia dan komunitas manusia secara keseluruhan ke dalam keridlaan Allah dan mengeluarkan mereka dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan terhadap Allah semata.

Sesekali al-Qur’an turun dengan berita-berita gembira ini secara lantang dan terkadang
berupa kinayah (sindiran). Maka, di dalam rentang waktu yang amat kritis seperti ini
dimana bumi dirasakan sempit oleh kaum Muslimin, mencekik mereka bahkan seakan
ingin mengakhiri kehidupan mereka; turunlah ayat-ayat tersebut sebagaimana yang dulu
terjadi diantara para Nabi dan kaum mereka berupa pendustaan dan pengingkaran. Ayat-ayat tersebut berisi hal yang menyinggung kondisi-kondisi yang persis sama dengan kondisi-kondisi kaum Muslimin di Mekkah dan orang-orang kafir disana. Ayat-ayat tersebut kemudian menyinggung peralihan kondisi berupa kebinasaan kaum kafir dan orang-orang yang zhalim dan kesuksesan hamba-hamba Allah di dalam mewarisi kekuasaan di muka bumi dan seluruh negeri. Di dalam kisah-kisah ini terdapat isyarat yang jelas akan kegagalan penduduk Mekkah nantinya dan kesuksesan kaum Muslimin dan dakwah islamiyah yang mereka bawa.

Di dalam tenggang waktu tersebut, turunlah beberapa ayat yang secara terang-terangan
memberitakan kabar gembira, berupa kemenangan kaum Mukminin sebagaimana di
dalam beberapa firman-Nya berikut:

1. Firman-Nya (artinya):

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi
rasul,(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan,
Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang, Maka berpalinglah kamu (Muhammad) dari mereka sampai suatu ketika,Dan lihatlah mereka, maka kelak mereka akan melihat (azab itu),Maka apakah mereka meminta supaya siksa Kami disegerakan,Maka apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu”.(Q,.s.ash-Shaffât/37: 171-177)

2. Firman-Nya (artinya):

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Q,.s.al-
Qamar/54:45)

3. Firman-Nya: (artinya):

Suatu tentara yang besar yang berada di sana dari golongan-golongan yang berserikat,
pasti akan dikalahkan. (Q,.s.Shâd/38:11)

4. Firman-Nya yang turun terhadap orang-orang yang berhijrah ke Habasyah (artinya):

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan
memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia.Dan sesungguhnya pahala di
akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (Q,.s.an-Nahl/16:41)

5. Firman-Nya tatkala mereka bertanya kepada beliau tentang kisah Nabi Yusuf
'alaihissalâm (artinya):

Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudarasaudaranya bagi orang-orang yang bertanya. (Q,.s.Yûsûf/12:7)

Yakni penduduk Mekkah yang bertanya tersebut akan mengalami kegagalan sebagaimana yang pernah dialami oleh saudara-saudara Yusuf dan mereka akan menyerah sebagaimana mereka menyerah.

6. Firman-Nya tatkala mengingatkan para Rasul (artinya):

Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka:"Kami sungguh-sungguh akan
mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami".Maka Rabb
mewahyukan kepada mereka:"Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim
itu,dan Kami pasti akan menempatkan kamu dinegeri-negeri itu sesudah
mereka.Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap)
kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku,(Q,.s.Ibrâhim/14:14)

Ketika perang berkecamuk antara bangsa Persia dan Romawi; kaum Kafir lebih senang bila bangsa Persia yang menang karena mereka memiliki kesamaan sifat, yaitu perbuatan syirik, sedangkan kaum Muslimin lebih cenderung bila kemenangan berada di pihak bangsa Romawi karena memiliki kesamaan sifat, yaitu beriman kepada Allah, para Rasul, wahyu, kitab-kitab dan Hari Akhir.

Kemenangan memang berada di pihak bangsa Persia, lalu Allah menurunkan ayat yang
memberitakan kabar gembira bahwa bangsa Romawi akan mengalami kemenangan dalam beberapa tahun kemudian (dan hal ini memang terjadi-red). Tidak sebatas itu saja, ayat tersebut menyebutkan kabar gembira yang lain secara terang-terangan, yaitu Allah akan menolong kaum Mukminin di dalam firman-Nya (artinya): “dan pada hari itu, kaum Mukminin bergembira dengan pertolongan Allah”. (Q,.s.ar-Rûm/30: 4-5)

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam sendiri sering menyampaikan kabar gembira seperti ini di sela waktu-waktu tertentu ; di saat datang musim haji dan berada di tengah orangorang di pasar ‘Ukâzh, Majinnah dan Dzi al-Majâz untuk menyampaikan risalah dakwah, beliau tidak hanya memberitakan kabar gembira tentang surga saja, tetapi secara lantang berkata kepada mereka: “wahai manusia! Ucapkanlah ‘Lâ ilâha illallâh’ niscaya kalian akan beruntung, menguasai bangsa Arab dan menundukkan orang-orang asing;jika kalian mati, maka kalian akan menjadi raja di surga”. (Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Sa’d: I/216)

Kami telah memaparkan sebelumnya jawaban Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam kepada
‘Utbah bin Rabî’ah berupa keinginannya untuk menegosiasi beliau dengan gemerlap
duniawi, serta apa yang dipahami dan diharapankan olehnya terkait dengan kemenangan
yang akan dicapai oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.

Demikian pula, tentang jawaban Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam terhadap delegasi
terakhir yang mendatangi Abu Thalib. Ketika itu beliau secara terus terang meminta
kepada mereka satu rangkaian kata saja yang apabila mereka memberikannya, maka semua bangsa Arab akan tunduk kepada mereka dan mereka dapat menguasai orang-orang asing.

Khabbab bin al-Aratt berkata: “Aku mendatangi Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam saat
beliau tidur dengan berbaring di atas burdahnya dan berteduh di bawah naungan Ka’bah.
Kami juga saat itu telah mengalami penyiksaan berat dari kaum Musyrikun. Lantas aku
berkata: ‘tidakkah engkau berdoa kepada Allah!’ (agar menolong para shahabat-red).
mendengar ucapan ini, beliau langsung duduk sedangkan raut wajahnya tampak memerah sembari berkata: ‘sungguh, orang-orang sebelum kalian pernah diseset dengan sesetan besi panas yang menusuk daging hingga mengenai tulang belulang dan urat. Akan tetapi hal itu semua tidak membuat mereka bergeming sedikitpun dari dien mereka. Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan agama ini hingga seorang pejalan kaki berjalan dari Shan’â ke Hadlramaut tidak ada yang ditakutkannya selain Allah Ta’ala. Dalam penjelasan periwayat hadits disebutkan : “…dan tidak juga dia mengkhawatirkan kambingnya diterkam srigala”. Dan dalam riwayat yang lain disebutkan tambahan: “…akan tetapi kalian terburu-buru (ingin cepat memetik hasil-red)”.

Kabar-kabar gembira tersebut tidak ditutup-tutupi dan terselubung akan tetapi
dipublikasikan secara terbuka dan diketahui baik oleh orang-orang kafir maupun kaum
Muslimin. Indikasinya, al-Aswad bin al-Muththalib dan rekan-rekan mengobrolnya saling mengedip-ngedipkan mata diantara sesama mereka bila melihat para shahabat Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam melintasi mereka, sembari berkata: “Raja-raja bumi yang akan mewarisi kekisraan Persia dan kekaisaran Romawi sudah datang kepada kalian”, kemudian mereka bersiul-siul dan bertepuk tangan.

Dengan adanya kabar-kabar gembira tentang masa depan yang akan cemerlang di dunia
diselai oleh pengharapan yang tulus dan sungguh-sungguh akan kemenangan menggapai
surga sebagai hasil akhirnya kelak, para shahabat memandang bahwa penindasan yang
beraneka ragam dan silih berganti dari semua lini tersebut serta musibah-musibah yang
mengepung mereka dari segala penjuru hanyalah sebagai ‘gumpalan awan musim panas
yang dalam sekejap akan sirna’.

Demikianlah, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam senantiasa menyuguhkan santapan
rohani kepada mereka dengan rangsangan keimanan; menyucikan jiwa mereka dengan
mengajarkan al-Hikmah (hadits) dan al-Qur’an; mendidik mereka dengan pendidikan
yang detail dan mendalam; mendorong jiwa mereka agar menduduki keluhuran ruh,
kemurnian hati, kebersihan budi pekerti, keterbebasan dari pengaruh materilistik,
pembendungan terhadap hawa nafsu serta kembali kepada Rabb bumi dan langit;
mengasah bara di hati mereka; mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju nur;
mengajak mereka bersabar terhadap semua gangguan, memiliki sifat pema’af serta
menundukkan jiwa. Dengan gamblengan semacam itu, mereka menjadi bertambah kokoh di dalam agama, menjauhkan diri dari hawa nafsu, siap mengorbankan jiwa di jalan yang diridlai oleh-Nya, merindukan surga, berkemauan kuat untuk menuntut ilmu dan memahami agama, mengintrospeksi jiwa dan menundukkan sentimen-sentimen yang tumbuh, mengalahkan perasaan-perasaan dan gejolak-gejolak jiwa serta selalu mengikat diri dengan kesabaran, kedamaian dan ketenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar